Thursday, August 22

Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul

Kediri, Sebelumnya aku juga gatau ada apa aja di kota Kediri ini, kota yang di juluki dengan kota tahu ini, jujur saja, aku gak tau dengan apa aja ada yang ada di kota ini, yang aku tau tentang kota ini adalah pondok pesantren dan ada menara emas di salah satu menara masjid.

Sekitar pejalanan dari kota Kertosono, Jombang, yang cukup memakan waktu sekitar satu jam-an dengan naik bus dan tentu saja transportasi umum di sana cukup murah, dengan membayar Rp.7000,- sudah bisa sampai ke kota Kediri, ya kemarin itu aku naik bus Sumber Kencono, meskipun di dalam bus penuh dengan penumpang dan ya harus rela berdiri, tapi di situ bagian serunya, harus rela bersabar sampai dapat bangku yang kosong di dalam bus.

Sampai di Nganjuk, bus sudah terasa agak lapang dari pertama naik tadi, banyak yang sudah duduk dan sudah sedikit pula yang memberhentikan bus di pinggir jalan, akhirnya akupun dapat tempat duduk setelah banyak penumpang yang turun di pabrik rokok Gudang Garam.

Sampai di terminal kediri, kami belum juga turun karena kami ingin turun agak masuk ke dalam kotanya sedikit, agar bisa mencari kendaraan umum lebih mudah, sampai di kota, kami putuskan turun di depan SPBU, ya, kalau kamu gatau mau kemana, dan belum tau tempat itu seperti apa, saran aku yang kamu berhenti saja di tempat yang aman, seperti SPBU, atau kantor yang ada keamanannya.

Setelah turun, aku dan kawanku langsung memesan ojek online untuk pergi ke Masjid Wali Barokah Kediri untuk bermalam di sana, dan tentu untuk menyiapkan perbekalan lainnya yang harus di siapkan besok harinya untuk pergi ke kota lainnya.

Malampun tiba di kota Kediri, tentu aku juga belum familiar dengan keadaan di daerah Jawa dan Yogya, sebab di Medan Magrib itu ya pukul 18.30 itu baru mulai gelap dan di sini jam 17 saja sudah gelap, tapi begitulah harus bisa menyesuaikan dengan waktu yang ada di daerah yang kita tuju dan harus menyediakan semua yang di butuhkan ketika mendadak.


SLG (Simpang Lima Gumul)

Aku dan kawanku di Kediri jumpa dengan kawan yang baru saja di kenal asal Palembang, lalu malam itu di Kediri dia mengajak untuk jalan ke SLG, awalnya aku bingung apa itu SLG soalnya kurang mengeksplor tentang apa-apa aja yang ada di kota itu, apa lagi kali ini benar-benar mendadak perginya dan ga ada persiapan apa-apa.

Dari Masjid Wali Barokah Kediri kami berjalan sampai dekat dengan alun-alun kota Kediri di sore harinya, dan dari situ kami memesan ojek online untuk pergi ke SLG atau Simpang Lima Gumul.

Sesaimpainya di sana sekitar pukul 17.30 hari mulai gelap seperti biasa, kami masuk ke Simpang Lima Gumul dari lorong bawah tanah yang mungkin panjang lorongnya kurang lebih 100 Meter gitu dan tembus langsung ke Tugunya dari parkiran yang sudah di sediakan, di dalam lorong ada yang cukup menarik bagi aku, dimana di kanan kirinya banyak sekali foto-foto sejarah yang di pajang di sepanjang lorong bawah tanah ini, cukup mengesankan.


Di Tugu Simpang Lima Gumul terdapat banyak sekali spot foto yang bagus dan di lokasi ini juga nyaman untuk mengahabisakan waktu sore ke malam bareng dengan kawan-kawan ataupun keluarga, letaknya tepat di simpang lima yang simpang ini menghubungkan kota Kediri Menuju Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten.

Bangunan yang unik ini mulai didirikan sejak 2003 dan diresmikan pada tahun 2008, di sini juga bisanya bisa naik ke atas tugunya, tapi sewaktu aku dan kawan aku sampai di sini lagi tidak bisa, dan mungkin karena sudah malam juga, atau memang ada waktu-waktu tertentu untuk naik ke atas tugu ini.

Belanja oleh-oleh khas SLG juga ada di sini, ada toko souvenir yang memang menyediakan dan menjual barang atau kenang-kenangan yang bernuansa Simpang Lima Gumul ini, ada banyak souvenir yang di sediakan, mulai dari gantungan kunci, baju, gelang, gendang, kalung, topi, dan kerajinan tangan lainnya yang bisa di bawa pulang dengan harga yang cukup bersahabat dengan kantong.



Untuk Sholat di Simpang Lima Gumul ini menyediakan Musholah yang terletak di dekat pintu masuk terowongan bawah tanah, cukup bersih, tapi aku dan kawanku kemarin tidak sholat di situ karena sangat ramai sewaktu kami main ke Simpang Lima Gumul ini, jadi kami putuskan untuk sholat di masjid terdekat dengan Simpang Lima Gumul ini.

Dan pastinya, kalau ga jajan ga afdol dong, nah di dekat sini ada semacam pasar malam gitu, banyak sekali orang yang berjaualan makanan di malam itu, dan pastinya harus pandai-pandai memilih makanan ya, jangan sampai semua di beli tanpa memilih, dan jajanan di sini cukup murah dan bersahabat dengan uang yang saat itu kita bawa, jadi kita bisa jajan malam itu. Dan kurang tahu juga itu apa ada setiap malam atau memang sewatu itu saja, soalnya sewaktu kami sampai di lokasi penjualan makanan juga mau ada acara besar di kota kediri itu.

Ada pasar malam yang cukup besar di dekat SLG itu, dan kalau mau bermain harganya cukup murah cukup membayar Rp.5000,- sudah bisa bermain di salah satu wahana yang di sediakan pasar malam itu, dan sungguh di daerah Simpang Lima Gumul Itu sangat hangat dan luar biasa, apalagi di tambah banyak barang-barang murah dan makanan murah yang di sediakan.

Pasar Malam Simpang Lima Gumul
Mungkin itu saja cerita Simpang Lima Gumul atau yang di singkat dengan SLG, selanjutnya mungkin kalau ada waktu bisa main lagi ke tempat ini dan pastinya tulisan ini akan di update setelah kembali kesana kalau ada kesempatan.

Kalau ada yang punya pengalaman kita sharing yuk di kolom komentar di bawah ini mengenai Simpang Lima Gumul 😄
Lanjut Baca ➥ Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul

Monday, July 22

Yogyakarta, Tujuan Liburan Tanpa Panduan

Siapa sih yang gak tau dengan Provinsi satu ini, yang letaknya tentu dekat dengan pesisir pantai selatan pulau jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah yang di mana Provinsi ini menawarkan sejuta pesonannya untuk memberikan hal menarik yang menunjukan ciri khasnya.

Apa sih yang kamu fikirkan ketika kamu sampai di daerah tersebut tanpa ada orang yang kamu ketahui sebelumnya?, pasti bingung untuk pertama kalinya mau kemana hari ini dan naik dengan apa kendaraan yang bisa membawa kesana kesini.

Begitulah cerita kali ini, ketika pesawat landing di bandara Adi Sucipto Yogyakarta, belum terbesit mau kemana hari ini dan mau naik apa hari ini ke tujuan, dalam rangka mengemban tugas yang sudah di amanahkan, maka modal nekat dan niat adalah kunci utama dari suatu perjalanan meski uang yang di bawa cukup pas pasan tapi tidak menurunkan tekat yang sudah bulat untuk melangkah di wilayah yang sebelumnya belum pernah di jelajahi di sana.

Ketika landing jujur kali ini ngga ada yang jemput, ga ada orang yang nulis nama di selembar kertas di pintu kedatangan, waktu itu aku berdua dengan kawanku, kami ngga tau apa-apa mengenai daerah tersebut.

Jadi yang pertama kali di lakukan adalah mencari masjid terdekat dengan badara, tentu di sana banyak masjid karena ga sedikit orang islam di sana, dan waktu itu pukul 3.15 waktu sana dan sudah ashar di masjid kami berhenti sejenak untuk sholat ashar dan rebahan sebentar, lalu karna posisi kamu tujuannya itu adalah kertosono kami memanfaatkan info yang ada yang kami punya waktu itu.

Trans Yogya dan Stasiun Lempuyangan

berhubung kami bingung mau kemana dan bener-bener gatau gimana caranya berangkat ke kertosono kami beranikan diri untuk menannya, dan benar saja kebanyakan orang mengatakan kalau mau ke sana naik bus saja mas nanti turun di beraan kertosono itu onkosnya paling 40rb an mas, dan ya naiknya di terminal saja, tapi kalau masnya mau enak sekarang ya bisa naik kereta api saja.

Oke, karna ada kereta api yang bisa menuju ke sana, langsung buka aplikasi di hp dan cek tiket dan ternyata untuk keberangkatannya hanya ada jam 2 dini hari, dan tersisa hanya 5 kursi lagi untuk kelas ekonomi, dan langsung saja boking tiket tersebut dengan harga 80rb persatu tiketnya, lalu masalahnya bagimana kami ke stasiun?

Dan kami di Yogya juga gatau mau ke arah mana berlabu, dan stasiun yang kami ambil adalah stasiun lempuyangan ga terlalu jauh dari malioboro dan kenapa kami tidak ambil dari stasiun tugu yogyakarta, itu karena masalah biaya yang cukup jauh berbeda, padahal dengan kereta yang sama, mungkin memang sudah di atur begitu.

Malam semakin larut, sekitar pukul 9.00 di yogya kami ke terminal Trans Yogya yang berada di bandara Adi Sucipto, dan kami bertanya ongkos untuk turun di malioboro, dan ternyata cukup murah, hanya 3500 rupiah saja untuk sampai di malioboro sementara jarak dari bandara ke malioboro cukup lumayan jauh.

Sesampainya di Malioboro kami bingung mau ngapai, posisi di malioboro pada saat itu masih liburan dan penuh dengan pengunjung, aku yang nenteng tas ransel besar, dan kawanku yang membawa koper besar, mengelilingi Malioboro sampai sekitar pukul 11 malam, dan kami cuma duduk-duduk saja di Malioboro dan tidak membeli apa-apa di sana karena takut menambah bawaan yang sudah cukup berat untuk di bawa.

Sekitar pukul 11 lewat 40 malam, sampailah kami di stasiun dengan menggunakan gocar, dan mencoba istirahat di stasiun tersebut dengan rasa cukup was-was, ya cukup was-was karena kami gatau siapa-siapa di sana dan yang pastinya ya harus bisa jaga barang yang sudah di bawa.

Akhirnya keretapun tiba di stasiun Lempuyangan tepat dengan jam yang sudah tertera, langsung kami bergegas naik ke dalam kereta, sekitar perjalanan kurang lebih 4 jam itu kami mencoba istirahat di dalam kereta dan sekitar pukul 6 lewat kami sudah tiba di kertosono dengan aman, dan jumpa dengan orang yang ingin kami temui.

Bersambung....
Lanjut Baca ➥ Yogyakarta, Tujuan Liburan Tanpa Panduan

Wednesday, May 8

Ramadhan 3; Dasar Awak

 

Alhamdulillah, sudah masuk ke puasa yang ke tiga, tapi kita emang sudah ngapain saja sampe hari ini? hayoo... mumpung masih panjang dan masih beberapa puluh hari lagi puasa, coba mikir deh kita sudah ngapai aja di bulan puasa kali ini...

Dasar awak, jadi ingat tahun bulan puasa tahun lalu yang ga ke sampean khataman, padahal tinggal dikit lagi saja kalau di lanjutkan bisa saja khatam waktu itu, tapi ya memang kenyataanya ga khatam mau bagaimana lagi, alasannya sih simpel dan mungkin sepele, tapi mungkin karena sepelenya itulah makanya di lalaikan sama Allah tahun lalu, ya alasannya itu adalah "nanti" Ramadhan masih panjang.

Dari kata-kata yang memalaskan diri dan menyibukan diri di hal-hal lahan atau ga berguna sama sekali kata-kata itu adalah pondasi yang paling kuat untuk meninggalakan apa yang sudah di targetkan, sampai-sampai besok udah hari raya saja.
 
Lucu memang kalau di ingat-ingat lagi apa yang sudah lewat dengan apa yang saat ini kita jalankan, hari ini mungkin bisa aja kita ketawa-ketawa sendiri dengan apa yang sudah lalu dan sudah kita lewati itu.

Tapi ada baiknya itu jadi pembelajaran, khususnya untuk awak, yang dimana kalaulah tahun lalu itu emang sesuram itu, insyaAllah tahun ini jangan sampai dan jangan sampai melebihi suramnya tahun lalu, ya bisa jadi bahan intropeksi diri saja.

Kalau dulu di bulan Ramadhan itu masih suka bilang nanti sama sholat, ya tahun ini bisa di ubah pelan-pelan juga yakan, bulan ini bisa jadi paksaan untuk diri kita untuk berubah jadi lebih baik lagi dan lagi, apalagi bulan ini bulan yang penuh dengan rahmatNya.

Ya, kalau tahun lalu ga bisa khataman satu kali, tahun ini bisa di khatamkan satu kali kalau bisapun lebih, kan belum tentu juga tahun depan kita masih jumpai yang namanya Ramadhan, jadi ya baiknya bulan ini di manfaatkan sebaik-baiknya, jangan terlalu banyak lahan, dan banyakin dosa kesana-kesini.

Tiap orang juga beda-beda kesalahannya, bisa jadi tahun lalu tiap minggu ga pernah absen motel makanan di siang hari, atau pas wudhu kumur-kumur air yang masuk banyak terus yang keluar tinggal dikit, ya pribadi sendiri-sendirilah yang tahu yakan.

Mungkin ini remainder saja sih untuk diri sendiri, dan mungkin kawan-kawan juga ada pengalaman buruk seperti itu di Ramadhan tahun lalu, dan tahun ini pingin berubah Alhamdulillah :D

Lanjut Baca ➥ Ramadhan 3; Dasar Awak