Saturday, September 7

Kolam Abadi dan Air Terjun Teroh Teroh Sekarang

Teroh Teroh, Siapa sih yang tidak kenal dengan kolam Abadi dan air terjun Teroh Teroh yang letaknya  ini tidak jauh dari kota Medan, dan ini benar-benar tempat yang cocok bagi orang yang suka petualangan menyusuri hutan dan sungai.


Kolam Abadi dan air terjun yang ada di sekeliling lokasi tersebut, merupakan aliran sungai yang berada di daerah langkat, yang pernah buming di kalangan warga yang suka mencari sensasi baru dan ingin menenangkan fikiran sejenak dari rutinitas yang riwet di kantor dan kota.

Lokasi ini sempat buming di antara tahun 2014 sampai tahun 2016 silam, sebelum terjadinya banjir bandang yang menggeserkan bebatuan yang ada di aliran sungai tersebut, dan menimbulkan paradigma kalau sungai ini tidak aman lagi untuk di telusuri.

Namun, semuanya itu tidaklah sepenuhnya benar, karena setiap kita datang ke alam kita harus siap dengan apa yang alam beri ke kita, kita tidak bisa melihat dari satu sudut pandang saja apalagi kita mencap bahwa satu tempat yang memiliki sejarah buruk akan buruk sepanjang sejarah, tidak seperti itu kawan kenyataanya.

Balik lagi ke Teroh-teroh dan dan kolam abadi, yang meskipun kabarnya sudah pernah kena banjir bandang dulunya, tapi kini tetap tidak menghayutkan kecantikannya juga, malah sekarang lebih rapi dari sebelumnya.

Banyak juga mata air yang muncul dari sisi kiri dan kanan aliran sungai, yang airnya tentu bisa langsung di minum, jangan takut kalau nanti sakit perut, karena airnya yang keluar itu tentu dari mata air bukan dari aliran sungai, jadi aman di minum dan kemarin sewaktu aku minum airnya ada manis-manisnya gitu.

Perjalanan menuju ke air terjun seperti biasa, melewati kebun karet, aren, bambu dan lainnya hingga perjalanan sampai ke spot pertama yaitu kolam abadi, perjalanan menuju spot pertama itu sekitar 20 menit jalan kaki, dan sesampainya di kolam abadi, rasa perjalanan yang melelahkan itu akan terlupakan.

Lalu bagaimana perjalanan menuju kesana? Nah, kalau perjalanan menuju lokasi tempat wisata itu dari kota Medan sekitar perjalanan 1 Jam dan akses untuk ke sana juga sudah tidak sesulit dahulu, kalau dahulu jalan menuju ke sana itu jalannya hancur dan rusak berat, tapi sekarang perjalanan sudah nyaman, jalan juga sudah mulus.

Baca Juga : Tempat wisata 46? Pantai apa sungai sih?

Juga masalah pungli yang dulunya banyak sekali di sana, sekarang sudah dikit bahkan sudah tidak ada lagi semenjak beberapa tahun belakangan ini, dan sekarang tinggal nyaman saja untuk berwisata di tempat wisata satu ini.

Untuk masalah sholat, tentu ada musholah di dekat lokasi ini, jadi sebelum kita menyusuri aliran sungai di anjurkan kalau sudah masuk jamnya sholat, langsung sholat sebelum masuk ke lokasi, karena di dalam lokasi tidak ada tempat sholat, ya namanya juga sungai, bagaimana mau ada tempat sholat, dan di perjalanan itu sekitar 2 jam lebih perjalanan, tergantung kita menikmati aliran sungai itu.

Biaya masuk tergantung guide yang  membawa kita dan deal-dealan kita sama guide tersebut, kalau kita orangnya sedikit, maka mahalah harga yang kita bayar, tapi kemarin aku berangkat karna banyak sekitar 12 orang, kami membayar cuma Rp.35.000 saja, sementara kalau dikit bisa membayar sekitar Rp. 50.000,-

Barang yang kita bawa akan di jaga sama guide dan timnya, jadi jangan takut kehilangan barang selagi kita mendengarkan instruksi dari guide yang sudah kita pilih untuk menemani kita berpetualang di sepanjang sungai hingga ke air terjun.

Teroh-teroh dan Kolam abadi memang tempat yang bisa membuat fikiran kita tenang dan melupakan kerjaan yang membuat fikiran kita tidak tenang dan menghilangkan kebuntuan di fikiran kita, suasananya yang masih asri dan petualangan yang seru membuat ingin balik ke sana lagi.

Di tempat ini tidak hanya ada air terjun Teroh-Teroh, di sini juga ada air terjun tongkat dan beberapa air terjun lainnya, tapi yang best sellernya itu air terjun Teroh-Teroh ini.

Jangan lupa untuk membawa bekal sendiri kalau mau menuju ke sana, ya syukur-syukur bisa menghemat pengeluaran, tapi kalau memang tidak mau membawa bekal di sana juga ada kedai nasi dan di lokasi ada yang menjual mie atau popmie yang bisa mengganjal perut.

Kalau mau ke sana bisa menghubungi kontak di bawah ini.

+62 852-0637-5382 - Moses

Dan ingat satu hal lagi, kalau sudah ke sana jangan pernah meninggalkan sampah sedikitpun ya kawan, meskipun hanya puntung rokok atau bungkus permen, karena kita yang harus menjaga alam yang kita miliki, bisa aja hari ini masih bagus, tapi karena sampah yang kita letak di situ suatu hari nanti bisa menghancurkan keindahan alam yang sudah di berikan ke kita.
Lanjut Baca ➥ Kolam Abadi dan Air Terjun Teroh Teroh Sekarang

Thursday, August 22

Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul

Kediri, Sebelumnya aku juga gatau ada apa aja di kota Kediri ini, kota yang di juluki dengan kota tahu ini, jujur saja, aku gak tau dengan apa aja ada yang ada di kota ini, yang aku tau tentang kota ini adalah pondok pesantren dan ada menara emas di salah satu menara masjid.

Sekitar pejalanan dari kota Kertosono, Jombang, yang cukup memakan waktu sekitar satu jam-an dengan naik bus dan tentu saja transportasi umum di sana cukup murah, dengan membayar Rp.7000,- sudah bisa sampai ke kota Kediri, ya kemarin itu aku naik bus Sumber Kencono, meskipun di dalam bus penuh dengan penumpang dan ya harus rela berdiri, tapi di situ bagian serunya, harus rela bersabar sampai dapat bangku yang kosong di dalam bus.

Sampai di Nganjuk, bus sudah terasa agak lapang dari pertama naik tadi, banyak yang sudah duduk dan sudah sedikit pula yang memberhentikan bus di pinggir jalan, akhirnya akupun dapat tempat duduk setelah banyak penumpang yang turun di pabrik rokok Gudang Garam.

Sampai di terminal kediri, kami belum juga turun karena kami ingin turun agak masuk ke dalam kotanya sedikit, agar bisa mencari kendaraan umum lebih mudah, sampai di kota, kami putuskan turun di depan SPBU, ya, kalau kamu gatau mau kemana, dan belum tau tempat itu seperti apa, saran aku yang kamu berhenti saja di tempat yang aman, seperti SPBU, atau kantor yang ada keamanannya.

Setelah turun, aku dan kawanku langsung memesan ojek online untuk pergi ke Masjid Wali Barokah Kediri untuk bermalam di sana, dan tentu untuk menyiapkan perbekalan lainnya yang harus di siapkan besok harinya untuk pergi ke kota lainnya.

Malampun tiba di kota Kediri, tentu aku juga belum familiar dengan keadaan di daerah Jawa dan Yogya, sebab di Medan Magrib itu ya pukul 18.30 itu baru mulai gelap dan di sini jam 17 saja sudah gelap, tapi begitulah harus bisa menyesuaikan dengan waktu yang ada di daerah yang kita tuju dan harus menyediakan semua yang di butuhkan ketika mendadak.


SLG (Simpang Lima Gumul)

Aku dan kawanku di Kediri jumpa dengan kawan yang baru saja di kenal asal Palembang, lalu malam itu di Kediri dia mengajak untuk jalan ke SLG, awalnya aku bingung apa itu SLG soalnya kurang mengeksplor tentang apa-apa aja yang ada di kota itu, apa lagi kali ini benar-benar mendadak perginya dan ga ada persiapan apa-apa.

Dari Masjid Wali Barokah Kediri kami berjalan sampai dekat dengan alun-alun kota Kediri di sore harinya, dan dari situ kami memesan ojek online untuk pergi ke SLG atau Simpang Lima Gumul.

Sesaimpainya di sana sekitar pukul 17.30 hari mulai gelap seperti biasa, kami masuk ke Simpang Lima Gumul dari lorong bawah tanah yang mungkin panjang lorongnya kurang lebih 100 Meter gitu dan tembus langsung ke Tugunya dari parkiran yang sudah di sediakan, di dalam lorong ada yang cukup menarik bagi aku, dimana di kanan kirinya banyak sekali foto-foto sejarah yang di pajang di sepanjang lorong bawah tanah ini, cukup mengesankan.


Di Tugu Simpang Lima Gumul terdapat banyak sekali spot foto yang bagus dan di lokasi ini juga nyaman untuk mengahabisakan waktu sore ke malam bareng dengan kawan-kawan ataupun keluarga, letaknya tepat di simpang lima yang simpang ini menghubungkan kota Kediri Menuju Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten.

Bangunan yang unik ini mulai didirikan sejak 2003 dan diresmikan pada tahun 2008, di sini juga bisanya bisa naik ke atas tugunya, tapi sewaktu aku dan kawan aku sampai di sini lagi tidak bisa, dan mungkin karena sudah malam juga, atau memang ada waktu-waktu tertentu untuk naik ke atas tugu ini.

Belanja oleh-oleh khas SLG juga ada di sini, ada toko souvenir yang memang menyediakan dan menjual barang atau kenang-kenangan yang bernuansa Simpang Lima Gumul ini, ada banyak souvenir yang di sediakan, mulai dari gantungan kunci, baju, gelang, gendang, kalung, topi, dan kerajinan tangan lainnya yang bisa di bawa pulang dengan harga yang cukup bersahabat dengan kantong.



Untuk Sholat di Simpang Lima Gumul ini menyediakan Musholah yang terletak di dekat pintu masuk terowongan bawah tanah, cukup bersih, tapi aku dan kawanku kemarin tidak sholat di situ karena sangat ramai sewaktu kami main ke Simpang Lima Gumul ini, jadi kami putuskan untuk sholat di masjid terdekat dengan Simpang Lima Gumul ini.

Dan pastinya, kalau ga jajan ga afdol dong, nah di dekat sini ada semacam pasar malam gitu, banyak sekali orang yang berjaualan makanan di malam itu, dan pastinya harus pandai-pandai memilih makanan ya, jangan sampai semua di beli tanpa memilih, dan jajanan di sini cukup murah dan bersahabat dengan uang yang saat itu kita bawa, jadi kita bisa jajan malam itu. Dan kurang tahu juga itu apa ada setiap malam atau memang sewatu itu saja, soalnya sewaktu kami sampai di lokasi penjualan makanan juga mau ada acara besar di kota kediri itu.

Ada pasar malam yang cukup besar di dekat SLG itu, dan kalau mau bermain harganya cukup murah cukup membayar Rp.5000,- sudah bisa bermain di salah satu wahana yang di sediakan pasar malam itu, dan sungguh di daerah Simpang Lima Gumul Itu sangat hangat dan luar biasa, apalagi di tambah banyak barang-barang murah dan makanan murah yang di sediakan.

Pasar Malam Simpang Lima Gumul
Mungkin itu saja cerita Simpang Lima Gumul atau yang di singkat dengan SLG, selanjutnya mungkin kalau ada waktu bisa main lagi ke tempat ini dan pastinya tulisan ini akan di update setelah kembali kesana kalau ada kesempatan.

Kalau ada yang punya pengalaman kita sharing yuk di kolom komentar di bawah ini mengenai Simpang Lima Gumul 😄
Lanjut Baca ➥ Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul

Monday, July 22

Yogyakarta, Tujuan Liburan Tanpa Panduan

Siapa sih yang gak tau dengan Provinsi satu ini, yang letaknya tentu dekat dengan pesisir pantai selatan pulau jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah yang di mana Provinsi ini menawarkan sejuta pesonannya untuk memberikan hal menarik yang menunjukan ciri khasnya.

Apa sih yang kamu fikirkan ketika kamu sampai di daerah tersebut tanpa ada orang yang kamu ketahui sebelumnya?, pasti bingung untuk pertama kalinya mau kemana hari ini dan naik dengan apa kendaraan yang bisa membawa kesana kesini.

Begitulah cerita kali ini, ketika pesawat landing di bandara Adi Sucipto Yogyakarta, belum terbesit mau kemana hari ini dan mau naik apa hari ini ke tujuan, dalam rangka mengemban tugas yang sudah di amanahkan, maka modal nekat dan niat adalah kunci utama dari suatu perjalanan meski uang yang di bawa cukup pas pasan tapi tidak menurunkan tekat yang sudah bulat untuk melangkah di wilayah yang sebelumnya belum pernah di jelajahi di sana.

Ketika landing jujur kali ini ngga ada yang jemput, ga ada orang yang nulis nama di selembar kertas di pintu kedatangan, waktu itu aku berdua dengan kawanku, kami ngga tau apa-apa mengenai daerah tersebut.

Jadi yang pertama kali di lakukan adalah mencari masjid terdekat dengan badara, tentu di sana banyak masjid karena ga sedikit orang islam di sana, dan waktu itu pukul 3.15 waktu sana dan sudah ashar di masjid kami berhenti sejenak untuk sholat ashar dan rebahan sebentar, lalu karna posisi kamu tujuannya itu adalah kertosono kami memanfaatkan info yang ada yang kami punya waktu itu.

Trans Yogya dan Stasiun Lempuyangan

berhubung kami bingung mau kemana dan bener-bener gatau gimana caranya berangkat ke kertosono kami beranikan diri untuk menannya, dan benar saja kebanyakan orang mengatakan kalau mau ke sana naik bus saja mas nanti turun di beraan kertosono itu onkosnya paling 40rb an mas, dan ya naiknya di terminal saja, tapi kalau masnya mau enak sekarang ya bisa naik kereta api saja.

Oke, karna ada kereta api yang bisa menuju ke sana, langsung buka aplikasi di hp dan cek tiket dan ternyata untuk keberangkatannya hanya ada jam 2 dini hari, dan tersisa hanya 5 kursi lagi untuk kelas ekonomi, dan langsung saja boking tiket tersebut dengan harga 80rb persatu tiketnya, lalu masalahnya bagimana kami ke stasiun?

Dan kami di Yogya juga gatau mau ke arah mana berlabu, dan stasiun yang kami ambil adalah stasiun lempuyangan ga terlalu jauh dari malioboro dan kenapa kami tidak ambil dari stasiun tugu yogyakarta, itu karena masalah biaya yang cukup jauh berbeda, padahal dengan kereta yang sama, mungkin memang sudah di atur begitu.

Malam semakin larut, sekitar pukul 9.00 di yogya kami ke terminal Trans Yogya yang berada di bandara Adi Sucipto, dan kami bertanya ongkos untuk turun di malioboro, dan ternyata cukup murah, hanya 3500 rupiah saja untuk sampai di malioboro sementara jarak dari bandara ke malioboro cukup lumayan jauh.

Sesampainya di Malioboro kami bingung mau ngapai, posisi di malioboro pada saat itu masih liburan dan penuh dengan pengunjung, aku yang nenteng tas ransel besar, dan kawanku yang membawa koper besar, mengelilingi Malioboro sampai sekitar pukul 11 malam, dan kami cuma duduk-duduk saja di Malioboro dan tidak membeli apa-apa di sana karena takut menambah bawaan yang sudah cukup berat untuk di bawa.

Sekitar pukul 11 lewat 40 malam, sampailah kami di stasiun dengan menggunakan gocar, dan mencoba istirahat di stasiun tersebut dengan rasa cukup was-was, ya cukup was-was karena kami gatau siapa-siapa di sana dan yang pastinya ya harus bisa jaga barang yang sudah di bawa.

Akhirnya keretapun tiba di stasiun Lempuyangan tepat dengan jam yang sudah tertera, langsung kami bergegas naik ke dalam kereta, sekitar perjalanan kurang lebih 4 jam itu kami mencoba istirahat di dalam kereta dan sekitar pukul 6 lewat kami sudah tiba di kertosono dengan aman, dan jumpa dengan orang yang ingin kami temui.

Bersambung....
Lanjut Baca ➥ Yogyakarta, Tujuan Liburan Tanpa Panduan